Praktikum 2 Penerapan Komputer

Posted by JULIA SARAS PUTRI on March 2, 2013 in Uncategorized |

Untitled

 

Untuk mengganti fungsi dari klik kanan dan klik kiri.

 

Untitled

 

Untuk mengatur kecepatan double-klik.

 

Untitled

 

Jika diaktifkan, gambar yang ingin di hold tidak perlu di drag.

 

Untitled

Untuk mengatur kecepatan gerak pointer.

 

Untitled

 

Untuk membuat pointer memiliki bayangan.

Yuk, Bikin Tom Yam Asli Thailand!

Posted by JULIA SARAS PUTRI on February 16, 2013 in Satu |

thumbnail

Jakarta - Cuaca yang cenderung mendung bikin perut ingin dimanjakan dengan makanan yang berkuah hangat. Sajian sup khas Thailand seperti tom yam, tom som pla, dan khao tom pla, pastinya jadi menu yang cocok. Penasaran bagaimana membuatnya? Yuk, intip di sini!

Sup yang cukup terkenal di Thailand banyak macamnya, tidak hanya terpaku dengan tom yam seafood saja. Nah, mumpung cuaca yang sedikit mendung seperti sekarng ini, tak ada salahnya membuat sup untuk menghangatkan keluarga di rumah. Jika suka, bisa mencoba sup khas Thailand yang rasanya cukup enak.

Tidak perlu khawatir bagi Anda yang pemula ataupun yang sudah mahir, karena buku mungil ini akan membantu Anda membuat sup lezat di rumah. Buku ini berisi segala macam sup dan juga salad khas Thailand yang dikemas cantik lengkap dengan foto-foto hasil jepretan Luca Invernizzi Tettoni.

Buku setebal 64 halaman ini ditulis dalam bahasa Indonesia dan mudah untuk diikuti petunjuknya. Cara membuatnya yang cukup ringkas dan mudah membuat sup dan salad ini bisa disajikan dalam hitungan menit saja.

Sup yang bisa Anda coba di rumah diantaranya, Kyang Jyd Fak atau sup beligo, Kang Jyd Tau Hu Kap Tua Ngok alias sup tahu tauge kedelai, tom som pla atau yang dikenal dengan nama sup ikan asam jahe, atau bisa juga Anda mencoba membuat Khao Tom Pla alias Sup Nasi Ikan yang gurih segar.

Untuk salad, tidak hanya bahannya mudah didapat, tapi juga cara membuatnya yang mudah pasti cocok untuk Anda yang masih pemula. Sebut saja Yum Hua Plee; urap jantung pisang, Laab Tao Hu ; salad tahu jamur pedas, Yum tua Phu; salad kecipir, dan masih banyak jenis salad lainnya.

Beberapa resep di dalam buku ini memang menggunakan daging babi, tapi buku ini juga menuliskan bahan penggantinya jika Anda tidak bisa mengkonsumsi daging babi.

Buku ini cukup mungil dan sederhana, sehingga mudah untuk disimpan ataupun di bawa bepergian. Jika Anda ingin mencoba membuat salad khas Thailand ataupun sup hangat malam ini, pastikan buku ini sudah berada di dapur Anda.

Sup dan Salad Khas Thailand
Periplus Mini Cookbooks
Rp 28.000,00
Bisa dibeli di seluruh toko buku Periplus

(Odi/eka)

Keistimewaan Jogja dalam Gudeg Kanjeng

Posted by JULIA SARAS PUTRI on October 4, 2011 in Uncategorized |

Jakarta – Sudah terlalu sering saya ditanya tentang gudeg favorit. Sebetulnya, jawaban terhadap pertanyaan itu sangat bergantung pada kota yang menjadi acuan. Di Semarang, jagoan saya adalah Gudeg Abimanyu. Di Solo, Adem Ayem (yang juga punya cabang di Jogja). Di Jakarta, saya punya empat jagoan: Pak Amat di Mayestik, Mbak Yayuk di Pejompongan, Bu Henny di Pasar Mampang, dan RM Jogja di Tebet. Lha, di Jogja sendiri? Bagi saya – maaf bila ini akan menimbulkan “perseteruan” di antara kita – adalah Gudeg Bu Yani. Hanya buka malam di Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Kauman, Yogyakarta.

Dulu Bu Yani buka cabang di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Cabang Jagakarsa ini sudah tutup. Sekarang, untungnya, cabangnya malah sudah dua: Gudeg Kanjeng di Bulungan (alamat lengkap di bawah), dan Gudeg Prabu di Cinere (dekat lapangan golf Pangkalan Jati, 021 70639114) – keduanya di Jakarta Selatan.

Mengapa saya suka Gudeg Bu Yani? Pertama, karena gudegnya tidak semanis rata-rata gudeg Jogja. Kedua, karena “model”-nya persis di antara kedua gagrak umum: basah dan kering. Gudeg Bu Yani berwarna merah, nyemek (alias: tidak basah maupun tidak kering), dan tekstur nangka mudanya masih cukup kenyal. Inilah citarasa gudeg yang paling pas untuk saya.

Sayangnya, tidak seperti di Bu Yani aslinya di Jogja, di sini tidak ada sambal pete yang bikin William Wongso tergila-gila. Sambalnya sampai berwarna hitam – karena tangkai cabe rawitnya ikut diuleg – dengan pete yang mungkin hanya digoreng sebentar. Puedessss buanget!

Harga-harga makanan di sini pun sangat pantas. Nasi gudeg komplet hanya dihargai Rp 23 ribu. Isinya: paha/dada ayam (boleh dipilih: ayam goreng atau ayam opor), gudeg, sambal goreng krecek/tahu, sepotong tahu putih, sebutir telor pindang, rebusan daun singkong, topping-nya adalah siraman santan kental atau areh gurih. Dijamin merem-melek kalau sudah menghadapi santapan ini.

Selain gudeg, RM Gudeg Kanjeng juga menyediakan berbagai jenis masakan rumahan (home-cooked meals) yang semuanya patut diacungi jempol, antara lain: nasi liwet (Rp 21 ribu), asem-asem tetelan (Rp 25 ribu), mangut lele/patin (Rp 15 ribu), nasi tumpang telur (Rp 16 ribu), pecel lele (Rp 16 ribu), dan garang asem (Rp 19 ribu). Percaya saya. Garang asem-nya mak nyuss! Citarasa asamnya diperoleh dari blimbing wuluh dan tomat hijau. Sangat mirip dengan garang asem favorit saya di Kudus, tetapi tingkat kepedasannya sudah dijinakkan sedikit.

Jangan lupa, kalau terlanjur kesengsem dengan jenis gudeg yang satu ini, juga tersedia besekan untuk dibawa pulang. Di sini juga tersedia bubur lemu (bubur beras yang dimasak dengan santan), sebagai pengganti nasi. Wuihhhh, ini favorit saya, mah. Makan bubur dengan gudeg atau dengan sambal tumpang. Tobat, tobaaat!

Gudeg Kanjeng
(Ibu Yani Jogja)
Jl. Hang Tuah X (samping Lapangan Tenis Bulungan)
Kebayoran Baru, Jaksel
021 71594977, 94508239

(dev/Odi)

1

Hello world!

Posted by JULIA SARAS PUTRI on October 4, 2011 in Uncategorized |

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Copyright © 2011-2014 Julia Saras Putri All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.2.3, from BuyNowShop.com.